Sudah
sembilan tahun lamanya aku hidup dalam perantauan. Tahun ke 4, aku mengazamkan
diri untuk tidak banyak meminta uang pada orang tua. Mau minta uang untuk apa?
Bea sekolah sudah gratis, tempat tinggal di asrama, makan sudah ditanggung.
Paling Cuma biaya transportasi. Memang biasanya orang tua hanya memberi uang
transportasi, uang saku seadanya, akupun tak protes. Tiga ratus ribu untuk
jangka waktu yang tidak ditentukan. Itu jumlah uang yang diberikan ketika keberangkatan.
Padahal hanya boleh pulang ketika pulang semester. Bagiku tak jadi masalah. Toh
tidak ada tanggungan lain-lain. Paling hanya butuh peralatan mandi atau ke
warnet kalo banyak tugas, karena di asrama fasilitas komputer dan internet
terkadang terbatas.
Masa-masa
di SMA terlewati begitu saja tanpa banyak masalah keuangan yang berarti.
Atribut angkatan, pakaian dan atribut untuk wisuda, dan pendaftaran kuliah bisa
diatasi tanpa meminta orang tua. Hingga sampai akhirnya aku benar-benar
diterima jadi mahasiswa dengan beasiswa. Aku membulatkan tekadku untuk tidak
meminta uang orang tua. Bahkan ketika aku menghilangkan uang temanku sebesar 10
juta pun aku tak bilang orang tua. Aku cari usaha sendiri, hidup sendiri
menyelesaikan masalahku sendiri. Ya, ujian mengganti uang 10 juta itu cukup
memberikan banyak pelajaran yang berarti.
Meski
begitu, aku tetap bertekad. Setelah selesai mengganti, kebutuhan yang lain
menanti, tibalah masa KKN yang dalam situasi “terjebak” dalam kelompok yang
pergi jauh dan tidak dibiayai pendanaannya. Lagi, aku harus mengeluarkan banyak
uang di sini. Tentu saja, aku masih tetap dengan pendirianku; tidak meminta
tetapi menerima kalo diberi. Segala administrasi dan keuangan dalam KKN yang
notabene sangat membutuhkan laptop dan uang yang banyak alhamdulillah bisa
terselesaikan. Tak perlu ditanya bagaimana otak ini terus bekerja mencari tiap
solusi atas semua permasalahan.
Hingga
masuk tahun ke-4 kuliah ini, aku masih juga tidak memiliki laptop. Padahal
banyak tuntutan, tugas, dan lain-lain yang membuat laptop harus menjadi
kebutuhan mahasiswa. Dari awal kuliah sampai sekarang, dengan uang terbatas,
fasilitas terbatas, aku tetap bisa mencapai IP > 3. Aku masih bisa hidup,
bahkan tak jarang meminjami atau memberi uang teman yang membutuhkan karena
kehabisan uang atau belum daat kiriman. Tugas-tugas kuliah dan organisasi pun
dapat terselesaikan meski banyak kekurangan.
Aku
bangga bisa meringankan beban orang tua. Aku bangga bisa bermanfaat kepada
teman. Dalam tulisan ini aku sengaja menyombongkan diri, bahwa aku adalah orang
yang tak punya banyak tetapi bisa memberi sesuai kemampuan. Bermanfaat kepada
lingkungan. Daripada mereka yang punya banyak uang tapi sukanya berfoya-foya.
Daripada mereka yang punya laptop keren, canggih, tapi tugas keteteran, kuliah
banyak yang ngulang, sedangkan duit masih minta orang tua. Ada pengemis atau
pengamen seringnya diusir. Ada orang minta sumbangan dikiranya cari alasan.
Silakan
saja bilang aku orang miskin, karena memang aku tak punya banyak uang seperti
kalian. Tetapi aku banyak memberikan manfaat untuk sekitar. Aku tak peduli,
meski hanya meringankan orang tua dan sedikit membantu teman, bagiku itu sudah
luar biasa. Memang tak sehebat orang yang mendirikan panti asuhan, atau
membagi-bagikan makanan di pinggir jalan seperi para artis, bukan juga membuka
lapangan pekerjaan atau mengentaskan kemiskinan. Tapi hal baik ini perlu
disombongkan. Buat apa merasa sok ikhlas dengan diam, hingga akhirnya kebaikan
terkubur terpendam. Lihatlah, yang sering muncul justru kemaksiatan dan segala
model kejahatan. Pencurian, korupsi, pelecehan seksual, tawuran, dan segala
kebohongan dan kecurangan.
Lihatlah
orang-orang kaya di sana, mereka yang memainkan uang, merasa bebas dan merasa
aman. Tapi tinggal tunggu saja tanggal mainnya. Kenyamanan mereka tak akan
bertahan lama. Tapi, bukan ini yang seharusnya diekspos. Media menjadi modeling
bagi penontonnya. Seolah hanya keburukan yang ada di Indonesia. Perhatikanlah
hal-hal baik, sebarkan nilai-nilai kebijaksanaan, tanamkan pada anak-anak,
praktekkan mulai dari diri sendiri, lakukan dari hal yang kecil, dan mulailah
dari sekarang.
Jangan
pernah biarkan nilai-nilai kebenaran terkubur dan terpendam, terkikis oleh
keburukan-keburukan orang yang tak tahu aturan. Sebarluaskan kebaikan melalui
apapun yang bisa dilakukan, baik perkataan, tindakan, ataupun persetujuan dan
harapan.
Di kegelapan
kamar
19 September
2014
No comments:
Post a Comment