Kira-kira tiga bulan
telah berlalu setelah aku memutuskan untuk pulang kembali ke rumah, meninggalkan
kota perantauan. Kerinduan juga adanya tanggung jawab mendesakku untuk
berkunjung pekan itu. Sekedar melepas rindu dan menyelesaikan administrasi yang
sudah semestinya diselesaikan meski kata karyawannya bisa dirapel di akhir
nanti, tidak harus diurus saat itu juga.
22 Maret, 13.15
aku sampai di kota jogja, menghubungi beberapa orang untuk bertemu dan
menyelesaikan beberapa urusan. Sebenarnya ada pertemuan yang ingin aku
selenggarakan, pertemuan ‘keluarga pengurus syiar 2012’ setelah sekian lama belum
‘reuni’ lagi. Terakhir ‘reuni’ seingatku adalah Oktober atau November 2014
setelah pulang dari kkn. Seperti biasa, berkumpul untuk makan bersama di hari
ulang tahun salah satu dari anggota, meski hari H-nya sudah lewat
berminggu-minggu. Haha. Tak jadi masalah, karena intinya adalah menjalin
silaturrahim.
Esok harinya
(23 Maret) segera menuju kampus, menghadap di bagian akademik dan segera
mencari-cari keberadaan dan menunggu dosen pembimbing untuk menyelesaikan
administrasi dan sedikit konsultasi. Sambil menunggu, kulangkahkan kakiku
menuju perpustakaan. Mengikuti takdir mahasiswa tua yang fokus menggarap
skripsi. Tak disangka dan dinyana di sanalah aku bertemu dan berkumpul dengan
anggota-anggota syiar kembali (Arma dan Sabila). Pertemuan yang sangat
kuinginkan tapi belum direncanakan. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku ajak
mereka makan siang, ya meskipun tidak seperti biasa aku sampaikan seperti ‘reuni-reuni’
sebelumnya, aku hanya mengajak makan bersama, tidak menamakannya ‘reuni’ kami
lagi. karena ada satu orang tambahan (Safura) dan tempat yang kami tuju merupakan
tempat bekerjanya salah satu dari teman kami; Bagus à di sambel layah jakal.
Waktu terus
berlalu sampai dzuhur pun tiba. Wacana ke sambel layah jakal ternyata dianggap
serius. Aku yang seharusnya sudah janji dengan dospem, karena kucari-cari juga
belum ketemu, akhirnya memutuskan makan bareng saja. Meski mereka masih
meragukan kabarku tentang teman kami yang bekerja di sana. Tanpa ba bi bu
(mengkonfirmasi teman kami/Bagus terlebih dahulu) langsung kami berempat menuju
sambel layah jakal. Awalnya, sampai sambel layah kami memang tidak menemukan
batang hidung teman kami itu. Karena memang pangkatnya sebagai kepala bagian di
sana, tentu kerjanya tidak di depan atau melayani pelanggan. Dilalahnya, saat
itu dia keluar ruangan untuk menemui staf-nya di depan dan melihat kami sedang
menunggu pesanan (tepat ketika kami duduk setelah menyelesaikan pemesanan). Jadilah
kami berlima melepas rindu hingga ashar tiba.
(saat itu aku
masih tak sadar jika ternyata itu adalah pertemuan terakhir)
25 Maret 2016
06.46 aku memulai
perjalanan kembali ke rumah, meniggalkan jogja (lagi). Perjalanan ini adalah
perjalanan pertamaku (dan semoga juga menjadi yang terakhir) merasa sangat
mengantuk di atas motor. Entah kenapa, biasanya secapek-capeknya badanku, mataku
akan tetap terbuka lebar karena fokus mengendarai motor. Perjalanan pulang ini
juga menjadi perjalanan tercepat dalam sejarah perjalananku jogja-semarang à hanya 2 jam, 08.45 aku sudah sampai di rumah kakakku. Aku menggunakam
trik-trik-ku selama mengendarai motor à bernyanyi dengan berteriak untuk melawan kantuk. Namun tetap saja,
beberapa kali mataku tertutup dan sempat terhuyung hampir menabrak atau
menyerempet mobil atau truk yang saat itu ada di dekat motorku. Saat itulah aku
teringat kebiasannya Arma. Dia yang bisa mengendarai motor dengan kecepatan
100km dan kadang lebih dari itu dengan keadaan mengantuk dan tak jarang matanya
tertutup. Apalagi dia sering melakukan perjalanan malam hari. Ternyata begitulah
yang dia rasakan, saat itu aku merasakan bagaimana posisinya. Dan mungkin pola
pikirnya juga sama; agar cepat sampai tujuan sehingga bisa segera beristirahat.
Di atas motor
setelah mengingat dan merasakan situasi dan kondisi yang dirasakan Arma,
pikirku melayang ke keluarga, orang-orang terdekat; sahabat dan teman yang
kuanggap sebagai keluarga kedua. Semuanya. Terlebih hampir dua bulan sebelumnya
aku kehilangan kakakku. Di atas motor itu, dalam keadaan terkantuk-kantuk itu,
aku sangat takut, takut akan rasa kehilangan (lagi). siapakah orang selanjutnya
yang akan dipanggil? Giliran siapa lagi yang akan menyusul mereka yang telah
mendahului? Akankah salah satu keluargaku lagi? akankah orang terdekatku? Atau keluarga
dari sahabat/temanku? Atau jangan-jangan malah diriku sendiri? Pikiran-pikiran
itu membuatku sangat kalut, semakin menambah kecepatan, juga semakin menambah
kantuk, lalu kulampiaskan melawan kantuk dengan bernyanyi berteriak
sekeras-kerasnya, tak peduli apakah pengendara lain mendengarnya atau tidak.
Setelah beristirahat
cukup lama, malam harinya aku menceritakan apa yang aku rasakan siang itu pada salah
satu orang. tentang rasa sangat takut akan kehilangan, dan menyebutkan
orang-orang terdekatku dari berbagai kalangan (yang ia kenal). Tak terasa rasa
takut itu mungkin berdampak pada kesehatanku. Mulai saat itu kurasakan badanku
meriang, batuk-batuk, dan beberapa gejala lain hingga satu bulan ke depan. Akhir
pekan Bulan April aku menyadari dan menemukan gejala-gejala yang kurasakan itu adalah
gejala sakit paru-paru. Mungkin dari luar memang tampak biasa saja, layaknya
sakit batuk biasa. tetapi segera aku menyempatkan waktu untuk melarikan diri ke
rumah sakit. Dua-tiga minggu mondar-mandir rumah sakit dan klinik dokter;
periksa, cek lab (ronsen paru-paru), cek dahak, kontrol, dan mengkonsumsi
obat-obatan. Apakah aku yang akan mendapatkan giliran selanjutnya untuk menyusul
ke sana? Ah, pikirku semakin kalut saja. Obrolan-obrolanku mulai banyak yang
membahas tentang pergi meninggalkan atau kehilangan. Termasuk juga mengkhwatirkan
orang yang menunjukkan gejala-gejala mengasingkan diri. Karena kehilangan tidak
selamanya berarti meninggal bukan?
12 Mei dokter
menetapkan diagnosa akhir penyakitku, tetapi saat itu aku tidak mendengar saat
dia menjelaskannya. Aku hanya mendengarkan tentang obat-obat yang harus aku
konsumsi. 23 Mei aku baru dijelaskan lagi bahwa ternyata aku sakit bronkitis, dan
saat itu perkembangannya sudah sangat baik. Hanya tinggal flu-nya saja. Pada hari
itulah hatiku menjadi lega. Sedikit demi sedikit, hari demi hari aku mulai
mengendalikan perasaan dan emosiku lagi. Tulisan tentang kehilangan yang aku tulis
setelah kakakku meninggal akhirnya aku terbitkan (di blog), setelah sekian lama
terpendam. Saat itu aku tidak berani mem-publish-nya dengan alasan yang tidak
bisa diterima logika. Aku masih takut. Berdasar pengalaman selama ini, kejadian
itu akan benar-benar terjadi ketika aku sudah menguasai perasaanku lagi (ketika
aku menghilangkan perasaan takut yang menjalar di hati). Benar saja, setelah
sekian hari menenangkan diri, satu hari setelah aku memposting tulisan tentang
kehilangan itu, saat berselancar di dunia maya, kudapatkan informasi itu.
Tak berpikir
lama, dengan diiringi kekagetan dan kepanikan, segera grup WA KMP 2011
kugencarkan dengan gambar itu. Dan semua telah berlalu. Dia telah benar-benar
pergi, pulang untuk menemui Yang Mencintainya dan Yang ia cintai.
*********
Sekedar pengantar
untuk memulai mengenangmu kawan. Kau yang dulu tidak menyukaiku ketika aku
dalam kondisi melawan perasaan itu. Terlalu khawatiran terhadap sesuatu yang
belum pasti terjadi. Tentang kecocok-logian peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tapi
kau tetap menghargai dan menutupi kebencianmu itu di hadapanku.
No comments:
Post a Comment