Sunday, June 22, 2014

Dasar Mahasiswa Indonesia #2



Sebuah catatan dan pelajaran selama masa SMA dan perkuliahan. Cerita tentang kebiasaan mahasiswa yang seharusnya tidak dibiasakan bagi penuntut dan pengamal ilmu pengetahuan. Begitu banyak (untuk tidak megatakan semua) bahwa laptop (saat ini) menjadi kebutuhan pokok bagi mahasiswa. Baik mahasiswa teknik, humaniora, medika, maupun agro/kehutanan. Laptop menjadi alat mahasiswa untuk browsing materi dan jurnal atau penelitian terbaru, membuat tugas, dan refreshing (game, nonton, dll).
Sebagai mahasiswa, idealnya mahasiswa harusnya mampu me-manage dengan baik dalam penggunaan laptop. Kapan harus menggunakan laptop untuk browsing materi, belajar, membuat tugas, dan refreshing. Namun, mahasiswa Indonesia memang selalu unik. Kebanyakan mahasiswa Indonesia lebih update dengan game-game dan video atau film terbaru dibandingkan dengan penelitian atau penemuan terbaru.
Bukan berarti melarang atau tidak memperbolehkan, namun layakkah mahasiswa lebih mementingkan hiburan dibandingkan belajar yang memang menjadi tanggung jawab sebagai mahasiswa? Kalau memang lebih mementingkan game dan atau film, kenapa tidak sekalian saja menjadi gamer atau aktor film sekalian saja? Buat apa-apa susah-susah pulang pergi ke kampus, mendengar ceramah dosen, mengerjakan tugas, tapi itu semua seolah dilakukan hanya formalitas saja? Buat apa bayar mahal-mahal jika tidak dilaksanakan secara maksimal? Pernahkah terpikirkan orang-orang yang tak punya kesempatan di luar sana yang sebenarnya juga menginginkan manisnya pendidikan? Cukupkah kau sia-siakan kesempatan mengenyam pendidikan? Sungguh, aku tak tahu bagaimana komentar dan sikap orang-orang di bawah sana yang sebenarnya mengharap pada orang-orang yang lebih berpendidikan untuk mengubah nasibnya, tetapi orang-orang di sini justru meremehkan dan bisa dikatakan sama sekali tidak menghargai waktu dan biaya yang mereka keluarkan sendiri.
Lihatlah perilaku mereka, banyak sekali variasi perilaku mahasiswa di dalam kelas; menonton film, nge-game, membuka media sosial, ngobrol dengan teman, tidur, ngerjain tugas mata kuliah lain, sms-an atau WA atau Line dan saudara-saudaranya. Dan lihatlah ketika dosen sudah berkata, “ada pertanyaan?”, maka seolah semua kegiatan itu terhenti. Berpura-pura mendengarkan, berkonsentrasi, tetapi tak ada pertanyaan yang muncul. Dan mereka akan tersenyum ketika akhirnya sang dosen “menyerah” dan menutup perkuliahan. Atau tampang mereka akan sedikit berkerut ketika dosen masih terus menunggu dan akhirnya ada beberapa mahasiswa yang bertanya. Selain ketika dosen menanyakan ada pertanyaan atau tidak, “kegiatan” mahasiswa itu akan terhenti jika tiba-tiba dosen menuju kursi dan duduk tanpa mengatakan apa-apa. Atau dosen berpura-pura mendekati mahasiswa, atau dosen hanya diam berdiri di depan, atau diam sambil mengelilingi kelas, dan yang pasti semua mahasiswa akan diam ketika membaca doa baik ketika pelajaran dimulai maupun diakhiri. Lebih unik lagi, pertanyaan akan banyak muncul ketika sesi diskusi dengan kelompok, padahal ketika dosen memberikan kesempatan bertanya, tak satupun pertanyaan yang muncul. Terlebih lagi mahasiswa akan mengomel ketika ujian, ada yang bilang ga pernah diajarkan, soalnya sulit, padahal semua soal ada di materi baik yang sudah dijelaskan di kelas maupun di buku acuan.
Hal kedua dalam pemakaian laptop. Sangking seringnya mahasiswa menggunakan laptop (hanya) untuk nge-game atau sekedar refreshing, masih banyak mahasiswa yang tahu bahwa fungsi laptop memang hanya untuk itu. Mereka masih kesulitan dalam penulisan paper, makalah, atau tugas semacamnya. Kebingungan ketika membuat daftar isi, sitasi, daftar pustaka, membuat halaman yang berbeda dalam satu file, dan fitur-fitur lain yang sebenarnya sudah tersedia di Ms. Word. Apalagi penggunaan Ms. Excel, mahasiswa merasa kagum ketika meilhat temannya bisa menggunakan fitur-fitur di Ms. Excel seperti rumus matematika sedehana, mengubah tulisan menjadi capital semua atau Capital Each Word, dan fungsi-fungsi lain yang ada di Ms. Excel. Kemampuan mengetik cepat pun kalah cepatnya dibandingkan ketika mereka memainkan game.
Jadi, hai mahasiswa, kalau kau benar-benar mahasiswa, tunjukkanlah identitasmu benar-benar sebagai mahasiswa, bukan sebagai gamer atau aktris film.

Monday, June 16, 2014

Yakin Ini Cinta (?)

Saat ku makan, minum, ku ingat kamu
Mau tidur juga ingat kamu
Bersenda gurau dengan teman, rapat, diskusi tak lupa akan keberadaanmu
Ketika sendiri, melamun, berpikir...
berpikir tentang diriku dan dirimu
adakah kita bisa bersatu?
sungguh aku sadar dan sudah sering kali kukatakan
rasa terima kasihku tak akan dapat membalas kasih sayangmu padaku
cintaku padamu tak akan mampu mengimbangi cintamu padaku
bagaimana tidak?
Jika selama ini aku selalu berbuat salah padamu
Menyakitimu, membohongimu, bahkan mengkhianatimu
Sedang kau masih tetap memberikan kasih sayangmu padaku
Diri yang sangat bodoh dan hina di matamu
adakah kita bisa bersatu?
Mungkin bagimu kata-kataku itu berlebihan
Tak seharusnya keluar dari mulut pejantan
Karena meski bersalahpun masih dapat kau maafkan
Ya, aku juga paham dan sadar
Memang lebih tepat bukan aku yang menyakitimu
Bukan membohongimu atau mengkhianatimu
Tetapi akulah yang menyakiti diri ini
Membohongi hati nurani
Mengkhianati komitmenku sendiri
adakah kita bisa bersatu?
Seolah perilaku menyakiti, membohongi, dan mengkhianati itu sudah mendarah daging
Meski juga sadar bahwa diri ini tak akan mampu bertahan tanpa dirimu yang selalu hadir
Menyaksikan diri ini melakukan banyak kesalahan
Namun tetap memberikan dan memfasilitasi untuk melakukan apa yang aku inginkan
Meski banyak sekali yang aku inginkan itu sebenarnya tidak kau inginkan
adakah cinta kita bisa bersatu?
Haruskah aku menunggu kita dapat bersatu?
Atau harus berapa lama lagi aku harus menunggu?
Jangan-jangan cinta kita memang tak akan pernah bersatu
Atau dalam kata lain biarlah ini tetap menjadi anganku
Tersimpan dalam ketidaksadaranku
Karena aku yakin, bahwa kaulah cintaku

pojok kamar masjid At-Taqwa, Swakarya
15 Juni 2014

Harta Karun Indonesia

“langit tinggi bagai dinding, lembah luas ibarat mangkok, hutan menghijau seperti zamrud, sungai mengalir ibarat naga, tak terbilang kekayaan kampung ini. Sungguh tak terbilang. Maka yang manakah harta karun paling berharga?”
Tak dipungkiri bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam dan manusia yang banyak. Tak terhitung barang tambang mulai dari tembaga, besi, nikel, timah, perak, dan emas, keanekaragaman hayati seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan yang jumlahnya mencapai ratus ribuan. Sama halnya dengan manusia yang tinggal di Indonesia. Banyak sekali perbedaan di Indonesia, tak terhitung suku-suku yang ada, budaya, politik, dan agama. Dari semua kekayaan itu, kira-kira manakah harta karun yang paling berharga bagi Indonesia?
Teka-teki di awal tulisan ini diambil dari novel Tere Liye yang berjudul Pukat. Dalam novel tersebut jawaban dari teka-teki ini sangatlah kompleks. Memang secara tersurat disebutkan bahwa harta karun yang paling berharga adalah anak-anak. Tapi, apakah benar anak-anak adalah harta karun paling berharga? Menurut penulis, gaya tulisan Tere Liye tidak sesimpel itu. Pembaca harus pandai mengkaitkan fakta-fakta yang ada. Dalam tulisan ini penulis mencoba mengartikan amanat yang ingin disampaikan Tere Liye dalam novel tersebut sesuai dengan pemahaman dan pengetahuan penulis dalam bidang psikologi.
Secara logika anak-anak merupakan generasi yang akan melanjutkan kehidupan manusia. Merekalah yang akan meneruskan perjuangan kita untuk mengatur dan mengelola Indonesia. Sehingga anak-anak memiliki peran penting untuk mengembangkan Indonesia menjadi lebih baik, seperti yang diinginkan dan sering digembor-gemborkan.
Dalam pencapaian tujuan harus diimbangi dengan usaha keras. Maka tak cukup dengan mengandalakan anak-anak kita tanpa ada usaha untuk membekali mereka. Orangtua dapat menyuruh anaknya untuk pergi ke suatu tempat, tetapi dia juga harus membekali anaknya sesuai dengan kebutuhan. Lalu, apa yang dapat dijadikan bekal bagi anak-anak untuk mengembangkan Indonesia?
Satu kata yang dapat mewakili bekal-bekal yang daibutuhkan anak adalah pendidikan. Karena pendidikanlah yang akan menentukan apa yang dilakukan oleh anak. Pendidikan yang baik akan menghasilkan pribadi yang baik, begitu juga sebaliknya.
Diakui atau tidak, kebanyakan permasalahan yang ada di Indonesia diakibatkan oleh buruknya pendidikan yang ditanamkan pada generasinya. Dasar pendidikan saat ini adalah kepatuhan, bukan pertukaran pikiran. Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan bukan ilmu latihan menguraikan. Sehingga tak heran jika muncul permasalahan penyalahgunaan narkoba, pornografi, korupsi, tawuran, kekurangan bahan pokok, dan sebagainya. Akan berbeda hasilnya jika dasar pendidikan adalah pemahaman, saling bertukar pikiran, lalu mengamalkan. Sehingga ilmu-ilmu yang dipelajari di kelas tidak menjadi uap yang menghilang begitu saja, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman tentang konsep pendidikan tidak cukup untuk mengembangkan Indonesia. Karena perubahan merupakan proses yang amat panjang. Dalam menjalani proses itupun terasa menyakitkan. Perlu langkah-langkah yang terorganisir dengan baik, melibatkan semua pihak, dan dilakukan terus menerus. Bisa menggunakan teori Bronfenbrenner untuk membentuk sistem yang terorganisir dari pemerintah hingga individu. Pemerintah dapat membuat aturan yang menghimbau orangtua untuk lebih memperhatikan perkembangan dan pendidikan anaknya daripada berorientasi kekayaan dan kekuaaan. Berikan contoh yang baik sebagai modeling (teori Bandura) bagi anak dalam melakukan sesuatu. Pemerintah juga dapat membatasi media-media dalam memberikan layanannya; penyajian siaran televisi, komik atau buku bacaan, dan internet. Gunakan metode belajar dan sistem evaluasi yang terbaik dan cocok bagi siswa di sekolah (Piaget, Vygotsky, dll). Orangtua dan guru dapat saling bekerja sama mengontrol perkembangan dan pendidikan anak.
Keanekaragaman hayati, bahan tambang, sebenarnya juga merupakan harta karun yang berharga. Namun, mereka tidak ada artinya jika manusia di dalamnya tidak mempunyai kapasitas untuk mengolah dan mengurusnya. Manusia pun tak ada artinya jika tidak melakukan apa-apa. Bahkan bisa menjadi penghambat atau pengrusak harta karun yang paling berharga. Pendidikan pun juga tak ada apa-apanya jika hanya disepelekan dan tidak dilaksanakan. Maka, untuk mencapai perubahan yang lebih baik harus melibatkan semuanya dari lingkup individu, mikrosistem, mesosistem, eksosistem, makrosistem, hingga kronosistem. Karena perubahan tidak akan pernah terjadi oleh ide-ide brilian yang terus dikemukakan tetapi perubahan akan terjadi dengan ide-ide yang secara bersama-sama dan konsisten dilaksanakan.











Dalam misi mengubah Indonesia, penulis bersama teman-teman sudah memulai melakukan beberapa aksi untuk masa depan. Mulai dari diri sendiri. Harapannya dapat mempengaruhi sistem-sistem di luarnya. Meski disadari bahwa mungkin tidak ada artinya, tapi setidaknya sudah diusahakan. Aksi-aksi tersebut adalah mengurangi sampah plastik dengan cara menggunakan tas atau tempat makanan ketika berbelanja di pasar, toko, atau supermarket. Menyebar benih ikan ke sungai-sungai. Mengajar TPA. Tidak mencontek dan memberikan contekan. Menanam satu pohon, tak usah muluk-muluk seribu pohon. Dan terakhir selalu mencoba menyebarkan ide-ide yang telah dilakukan; mengajak siapapun untuk ikut melakukannya atau melakukan ide briliannya masing-masing.

Saturday, May 24, 2014

KONTRASIRONI

Berawal dari masa transisi dari siswa menjadi mahasiswa. Masa-masa adaptasi dengan lingkungan baru di jogja. Momen-momen penting yang menjadi jejak esok lusa. Ternyata terskenario menempatkan diri ini dalam kondisi dan situasi yang tepat. 1)Perubahan kurikulum yang berupa materi lebih banyak, tugas lebih banyak, metode pengajaran yang hampir selalu tampak  tidak jelas, ketidaksiapan dari perangkat fakultas baik dosen, mahasiswa, maupun karyawannya. 2) harapan dan keinginan berpengalaman di berbagai organisasi. Cita-cita mengembangkan potensi dan menyalurkan minat bakat. 3) belum jelasnya pembiayaan kuliah. Dan ketika sudah jelas dan merasa aman, justru terjadi “momen penting “ lain yang mengharuskan aku mengganti uang 10 juta. 4) kondisi keluarga yang belum tentu arahnya ke depan. Bapak yang “menginginkan” nikah lagi, tetapi anak-anaknya tidak pernah menganggap serius pembahasan tentang ini. Salah satu kakak yang belum lulus, kakak lain yang juga belum jelas kelanjutannya, dan adik-adik yang masih sekolah.
Empat kondisi, dan ketika saling dihubungkan sungguh membuat otak ini terus berputar. Kurikulum/akademik yang menuntut banyak membaca buku dan atau jurnal, juga deadline tugas-tugas yang bertumpukan. Hal ini seharusnya dapat diatasi dengan hanya pergi ke warnet, searching, browsing, baca, ngerjain tugas selesai. Tetapi tak sesimpel itu ketika kondisi kemudian menunjukkan turunnya beasiswa yang tidak jelas kapan, ditambah lagi “momen penting” mengganti uang 10 juta, belum memikirkan kehidupan sehari-hari. Tak mungkin seenaknya aku dapat berpuas ria di warnet. Tak tega juga harus meminta uang orangtua sebanyak itu sedangkan saudara-saudara yang lain juga membutuhkan. Belum lagi kondisi bapak yang sejak ditinggal ibu tampak goyah. Harapan-harapan berorganisasi, mengembangkan potensi dan menyalurkan bakat; seni, musik, fotografi, menulis, dan pecinta alam, semua  harus kutahan, dengan alasan yang sama. Karena aku sadar, semua itu tak dapat dilakukan hanya dengan modal dengkul.
Satu-satunya cara pelampiasanku adalah “terjebak” dalam sebuah organisasi, opsi terakhir dari sekian organisasi yang ingin kumasuki. Daripada suntuk dengan permasalahan yang akhirnya membuat diri tak nyaman. Dengan masuk di organisasi ini, aku dapat melakukan apapun, melakukan “ide kreatif” dari kondisi tertekan sebagai pelampiasan dan “melupakan” sejanak permasalahan. Namun, tak terasa, dampak secara fisiologis aku tak bisa mengontrolnya; susah tidur, ngantuk di kelas, bahkan sampai 4 sks di kelas aku hanya tidur dari masuk kelas sampai keluar lagi. Di kelas manapun. Maka yang terjadi, terjadilah. Di luar sana aku sering sekali diomongkan. Tukang tidur di kelas. Hal ini terjadi hingga hampir 2 semester.
Sebenarnya tak apa aku dicap seperti itu. Sungguh, rasa malupun aku tak peduli. Mereka mungkin tahu kondisiku, tapi mereka hanya tak paham apa yang terjadi padaku. Tapi aku mulai sadar. Aku tak hanya membawa namaku sendiri. Aku juga membawa “jaket organisasi” yang kuikuti. Hmm, bukan, lebih tepatnya “jaket agama” dengan nilai-nilai yang seharusnya kujalankan. Karena pada ujungnya toh aku “tak peduli” dengan organisasi ini, tetapi terlebih karena aku lebih mencintai nilai yang (seharusnya) dibawa organisasi ini.  Akhirnya, di semester 3 aku mencoba mengontrol kantukku. Disamping juga aku harus memanage keuangan dan pikiranku. Kira-kira 75% aku berhasil mengontrol kantukku di kelas ketika sudah semester 4.
Inilah saat-sat itu terjadi. Ketika posisiku yang semakin naik di organisasi ini, juga melihat perkembanganku di kelas. Ada beberapa orang yang mengeluh padaku. “eh, kok si itu gini sih, mbok dikasih tahu”, “eh kok si ini gitu sih, harusnya kan gitu”, “kamu kan temennya, mbok dikasih tahu, biar gak gitu”. Seringkali permasalahan teman-teman organisasiku di kelas diadukan padaku. Entah tidur, telat, maupun tugas ga bener. Keluhan itu tidak terjadi secara langsung. Tetapi satu per satu permasalahan dipampangkan dihadapanku. Kadang sebulan satu permasalahan atau dua bulan tiga permasalahan; random. Beberapa cara telah kulakukan, baik dengan sindiran, diskusi, ngomong secara terbuka, atau langsung memberikan saran/solusi. Namun, tetap saja, atau mungkin belum memberikan dampak yang signifikan. Atau bahkan lebih parah lagi, mereka sudah nyaman dan bangga dengan kecacatan itu.
Sampai saat ini, akhirnya beberapa minggu yang lalu, aku merasakan puncak “teguran” yang amat menyakitkan, meski tidak langsung kepadaku, “ternyata anak ‘organisasi’ itu kayak gini ya? Yang satu tukang tidur, yang satu telatan, tugas ga jelas. Tak kirain anak ‘organisasi’ itu tu baik-baik, soleh-soleh. Eh, ternyata juga bisa kayak gitu semua”.
Pada akhirnya, aku hanya berpikir, selama ini aku berpikir untuk mengubah perilaku mereka. Tapi tidak kali ini. Tugasku hanyalah menyampaikan informasi dan membantu jika dibutuhkan. Mau atau tidak mau berubah, siap atau tidak siap berubah itu urusan mereka. Dan memang hanya dengan keinginan dan usaha mereka sendirilah yang mampu mengubahnya. Percuma jika aku mau dan berusaha mengubah tetapi kemauan dan usaha itu tidak muncuk dari diri mereka sendiri. Pengajaran yang terbaik atau dalam bahasa organisasi itu adalah dakwah adalah dengan memberi contoh. Menjadi teladan dalam berperilaku sehari-hari. Percuma selalu mengatakan tentang kebaikan, percuma selalu mencoba melarang hal yang dilarang, tapi diri sendiri masih banyak cacat yang terlihat. Memang, jika fokus pada cacat, dakwah tak akan terjadi. Namun, itu bisa disiasati dengan saling membantu dan mendukung, saling mengkoreksi mengingatkan, untuk menjadi yang lebih baik lagi. J

Sunday, May 11, 2014

TKK 2014 #Tentang Batu 2



Hidup merupakan ujian. Bahkan dari sebelum lahir, calon manusia (read: sperma) sudah harus bersaing dengan ribuan calon manusia lainnya. Hanya satu yang lolos yang akhirnya masuk ke rahim ibunya. Hidup penuh tantangan. Tak pelak, banyak sekali manusia yang tidak lulus pada ujian-ujian selanjutnya ketika masuk dalam dunia nyata. Ada yang depresi, bahkan sampai bunuh diri. Tulisan ini akan bercerita tentang ujian dan tantangan hidupku selama kurang lebih satu tahun ini, 2014, meski tidak semua aku ceritakan. Namun, ini sudah cukup untuk sekadar pelampiasan dan strategi dalam menghadapi ujian dan tantangan (dalam bahasa psikologi disebut sebagai katarsis dan strategi coping). Dalam pembahasannyapun pastinya terkait dengan tahun sebelum dan sesudahnya, 2013 dan 2015. Selain sebagai katarsis dan strategi coping, banyak sekali hikmah dan pelajaran yang aku dapatkan yang semoga juga bermanfaat bagi para pembaca. J
Aku akan menggunakan dua analogi; batu dan kertas (bukan suit batu gunting kertas :D). Secara garis besar batu dan kertas ini ada tiga, sesuai dengan judul tulisan ini; sebut saja T, K1, dan K2. Apa arti dari analogi batu dan kertas itu? Oke, bayangkan saja aku adalah seorang pemahat batu atau pelukis. Sehingga batu dan kertas itu adalah bahan utama untuk memahat dan melukis.
Oktober 2013. Baru saja aku selesai membuat satu pahatan batu atau lukisan, sedang juga membantu memahat dan melukis K1, aku mendapat order untuk memahat dan melukis T, sebuah pahatan atau lukisan yang merepresentasikan sebuah taman yang nyaman dengan anak-anak yang bahagia di dalamnya. Buruknya, aku tidak mendapat warisan apapun untuk menjaga dan memperindah batu dan lukisan yang belum jadi itu. Bahkan aku harus memulainya dari nol. Termasuk mencari dan membeli alat, mencari bantuan, dan sebagainya. Jatahku untuk menjaga dan memperindah batu dan lukisan T ini tidak jelas, bisa jadi satu, dua, atau bahkan tiga tahun. Sementara orang-orang sudah terus melihat perkembangan dan membicarakan proses pembuatan pahatan batu dan lukisan T ini.
Januari 2014. Masa membantuku untuk memahat dan melukis K1 telah usai. Aku sedikit lega. Tetapi ternyata sebaliknya. Justru setelah itu aku ditunjuk sebagai penanggung jawab selanjutnya; menjaga dan memperindah pahatan batu dan lukisan itu. Baiknya, aku sudah memiliki alat-alat dan bahan-bahannya. Aku juga sudah tahu konsep pahatan batu dan lukisan itu akan dibuat menjadi apa. Tidak seperti pada batu dan lukisan T. Tantangannya adalah membuat orang-orang yang membantuku memahami cara menggunakan alat dan bahan itu, serta memahamkan konsep akhir batu dan lukisan itu. K1 ini merupakan pahatan dan lukisan yang menggambarkan sebuah keluarga yang disinari oleh cahaya matahari, yang berdiri diatas bumi pada tingkatan tertinggi.
Februari 2014. Aku melakukan kewajibanku sendiri untuk membantu membuat pahatan dan lukisan K2. Sebuah rancangan karya yang fenomenal. Karya ini akan dikirim ke luar pulau, di sebuah kabupaten paling ujung, di sebuah kampung yang mungkin bisa dikatakan terpencil. Sebuah karya yang diharapkan mampu menjadi motivasi bagi penduduk di sana, untuk menjadi masyarakat yang lebih baik, yang mampu berkembang dan bersaing seiring berkembangnya zaman. Karya ini harus dikirim bulan Juli depan. Namun, di tengah perjalanan, April 2014, pemimpin proyek karya ini kehilangan arahnya. Yang pada akhirnya menuntutku untuk menggantikan posisinya sebagai pemimpin, pemahat dan pelukis utama. Tak hanya itu, bahkan pahatan batu dan lukisan yang dalam proses pembuatan ini hampir dihancurkan, pahatan dan lukisan yang semi jadi itu diabaikan, bahkan dibanting dan diinjak-injak. Sungguh betapa menyakitkan. Perjuangan dan pengorbanan, tetes demi tetes keringat yang berjatuhan, tidak dihargai sama sekali. Untung saja, tim pemahat dan lukisan ini mempunyai semangat dan komitmen yang luar biasa. Tim ini berhasil menyusun, memahat dan melukis lagi menjadi baik dan akhirnya mulai dibicarakan positifnya, mulai dipuji, dan dihargai. Namun, perjuangan memang belum usai. Kami harus memperindah lagi setelah pahatan dan lukisan ini hancur berantakan.
Dalam analogi batu dan kertas ini, menggambarkan bahwa posisiku saat ini berada di tengah tiga batu dan lukisan yang harus dijaga dan diperindah. Aku harus melaksanakannya secara bersamaan. Namun sebenarnya tidak hanya tiga batu dan lukisan itu. Tentunya ada juga pahatan batu dan lukisan khusus yang ingin aku buat sendiri, untuk keluargaku, untukku sendiri, atau untuk orang-orang di sekitarku. Pasti ada orang-orang yang meminta bantuan untuk membuatkan pernak pernik kecil, atau lukisan sederhana untuk mereka (ingat bahwa aku sebagai pemahat dan atau pelukis).
Cerita-cerita itu, awalnya aku menganalogikan diriku sebagai tukang angkut dan kolektor batu. Sehingga menunjukkan bahwa aku diminta tolong orang untuk mengangkut tiga batu besar itu dalam waktu yang “bersamaan”. Bayangkan, betapa beratnya jika seorang kolektor batu, yang selalu memunguti batu kerikil yang disukainya, atau ditawarkan orang lain padanya, kemudian meletakkan di karung yang dipikulnya. Kemudian sebagai tukang angkut batu, dia juga diminta tolong oleh tiga pihak untuk mengangkat batu-batunya yang besar. Padahal batu-batu di karung yang dipikulnya tak hanya kerikil yang dia kumpulkan, tetapi juga koleksinya dari dahulu yang pastinya juga beraneka ukuran; beberapa besar, sedang dan kecil. Sungguh betapa berat pundak ini harus memikulnya.
Pada akhirnya aku sadar, aku bukanlah kolektor atau tukang angkut batu. Tetapi aku adalah pemahat batu. Sehingga aku tak harus mengangkut batu itu kemana-mana agar orang lain melihat keindahannya. Tugasku adalah menjaga dan memperindah batu yang ada. Aku dapat meletakkan batu itu, lalu memperindahnya, sehingga orang lainlah yang akan datang menyaksikan keindahannya. Batu-batu kerikil lain yang aku kumpulkan, itu dapat menjadi hiasan pada batu besar itu. Dapat juga menjadi karya sendiri yang memiliki keindahan yang khas. Kemudian, dalam menjaga dan memperindah batu itu, aku sadar bahwa aku tidak sendirian. Aku dapat mengatur shift kerja, membagi peran, dan mengatur komunikasi untuk menjaga dan memperindahnya.
Banyak sekali cerita ketika proses pemahatan batu itu. Ada kalanya terkikis air hujan, terkikis angin yang kencang, salah memahat karena mengantuk, diejek dan diremehkan orang lain, bahkan dirusak dan diinjak-injak. Namun, itu merupakan proses. Justru dengan adanya semua itu, hasil yang didapatkan justru lebih indah, ya, lebih indah daripada yang terbayangkan. :)
Jika kau juga seorang pemahat batu, baik sebagai pemahat utama atau sekedar pemahat batu, bagaimana dengan batu yang kau pahat? Samakah cerita dan prosesnya? :)