Tangan menjulang khusyuk menengadah,
Namun kaki masih betah berpijak di kubangan salah.
Bibirku mengeja asmamu tanpa jeda,
Sembari hatiku asyik merajut benang berdo[s]a.
Aku tak lagi bergantian melakukan keduanya,
Kini, dalam satu helai napas, mereka menyatu tanpa jeda.
Bagaimana bisa satu dada menampung surga dan neraka?
Isinya bergejolak, membuat warasku terluka.
Sungguh sakit meremas jantung yang terbelah,
Bingung meraba diri; apakah aku sedang berserah, atau justru sedang menyanggah?
Aku menjadi paradoks yang berjalan,
Berlutut menyembah, sekaligus menggenggam erat kemaksiatan.
Di tempat sepi yang paling sunyi,
Rasa hina ini mendadak bangkit dan menguliti.
Aku ketakutan, gemetar hingga ke tulang,
Sebab bayanganmu di depan mata tak kunjung hilang.
Aku tahu kau tahu, aku tahu kau melihat,
Betapa menjijikkannya hamba yang mencuri nikmat di tengah sujud yang khidmat.
Tapi ego ini terlalu angkuh untuk mengaku kalah,
Kupakai jubah doa agar dosaku tampak indah.
Kupura-pura tak tahu kalau kau sedang menatapku,
Bahkan kupamerkan kesalehan palsu ini di hadapanmu.
Aku berdo[s]a tanpa ragu,
Menantang takdir dengan hati yang membatu.
Hingga akhirnya, kepura-puraan itu runtuh dan binasa,
Ketika seolah ada kalimat bergema, menembus dada:
“Pantaskah kau berdo[s]a?”
Di sinilah, di titik paling nadir dan penuh luka,
Di antara rasa sakit, hina, takut, dan bingung yang menyiksa,
Kuselipkan satu pintasan harap yang tersisa:
Sambil menangis, kumemohon
Gugurkanlah huruf [s] itu dari hidupku, agar yang tersisa di jiwaku... hanyalah Doa.
No comments:
Post a Comment