Telah lama aku mengakrabi setapak ini,
Jalan sunyi yang hanya mengenal satu jejak kaki.
Kupikul langit tanpa pernah meminta bahu,
Mengurai benang kusut di dalam kepalaku;
Mencari celah, membedah masalah, mencari pintu.
Pikiranku adalah meja catur yang tak pernah tertidur,
Menyusun benteng dari nasib yang terus membentur.
Menghadapi teka-teki dunia yang saling berkelindan,
Merangkai taktik demi sebuah kata: bertahan.
Namun di ujung malam, strategi itu sering kali gugur,
Ditelan oleh penyesalan yang tak kunjung hancur.
Di depan cermin, aku menjelma menjadi hakim yang kejam,
Menjatuhkan vonis pada masa lalu yang kelam.
Mengutuk segala ragu, menertawakan kebodohanku sendiri,
Meratapi nyali yang lumpuh saat kesempatan itu menanti.
Mengapa lidah ini kelu? Mengapa langkah ini membatu?
Kini yang tersisa hanya andai yang menusuk kalbu.
Sungguh aneh rasanya...
Ada badai yang begitu bising, justru saat ruang sedang hening,
Telingaku pekak oleh teriakan hati yang berdenging.
Dan saat aku berdiri di tengah lautan manusia yang tertawa,
Aku tetaplah pulau karang yang terasing dari dunia.
Penuh kerumunan, namun tak satu pun menyentuh jiwa.
Bising di luar, tapi kosong hampa di dalam dada.
Inilah jalan sunyi yang terus kutempuh;
Tersesat dalam keramaian, bertarung dalam sepi yang luruh.