Monday, July 6, 2026

Riuh di Balik Jalan Sunyi

Telah lama aku mengakrabi setapak ini,

Jalan sunyi yang hanya mengenal satu jejak kaki.

Kupikul langit tanpa pernah meminta bahu,

Mengurai benang kusut di dalam kepalaku;

Mencari celah, membedah masalah, mencari pintu.


​Pikiranku adalah meja catur yang tak pernah tertidur,

Menyusun benteng dari nasib yang terus membentur.

Menghadapi teka-teki dunia yang saling berkelindan,

Merangkai taktik demi sebuah kata: bertahan.

Namun di ujung malam, strategi itu sering kali gugur,

Ditelan oleh penyesalan yang tak kunjung hancur.


​Di depan cermin, aku menjelma menjadi hakim yang kejam,

Menjatuhkan vonis pada masa lalu yang kelam.

Mengutuk segala ragu, menertawakan kebodohanku sendiri,

Meratapi nyali yang lumpuh saat kesempatan itu menanti.

Mengapa lidah ini kelu? Mengapa langkah ini membatu?

Kini yang tersisa hanya andai yang menusuk kalbu.


​Sungguh aneh rasanya...

Ada badai yang begitu bising, justru saat ruang sedang hening,

Telingaku pekak oleh teriakan hati yang berdenging.

Dan saat aku berdiri di tengah lautan manusia yang tertawa,

Aku tetaplah pulau karang yang terasing dari dunia.


​Penuh kerumunan, namun tak satu pun menyentuh jiwa.

Bising di luar, tapi kosong hampa di dalam dada.

Inilah jalan sunyi yang terus kutempuh;

Tersesat dalam keramaian, bertarung dalam sepi yang luruh.

PENDO[S]A II: Belahan Jiwa yang Terbelah

 ​Tangan menjulang khusyuk menengadah,

Namun kaki masih betah berpijak di kubangan salah.

Bibirku mengeja asmamu tanpa jeda,

Sembari hatiku asyik merajut benang berdo[s]a.

Aku tak lagi bergantian melakukan keduanya,

Kini, dalam satu helai napas, mereka menyatu tanpa jeda.


​Bagaimana bisa satu dada menampung surga dan neraka?

Isinya bergejolak, membuat warasku terluka.

Sungguh sakit meremas jantung yang terbelah,

Bingung meraba diri; apakah aku sedang berserah, atau justru sedang menyanggah?

Aku menjadi paradoks yang berjalan,

Berlutut menyembah, sekaligus menggenggam erat kemaksiatan.


​Di tempat sepi yang paling sunyi,

Rasa hina ini mendadak bangkit dan menguliti.

Aku ketakutan, gemetar hingga ke tulang,

Sebab bayanganmu di depan mata tak kunjung hilang.

Aku tahu kau tahu, aku tahu kau melihat,

Betapa menjijikkannya hamba yang mencuri nikmat di tengah sujud yang khidmat.


​Tapi ego ini terlalu angkuh untuk mengaku kalah,

Kupakai jubah doa agar dosaku tampak indah.

Kupura-pura tak tahu kalau kau sedang menatapku,

Bahkan kupamerkan kesalehan palsu ini di hadapanmu.

Aku berdo[s]a tanpa ragu,

Menantang takdir dengan hati yang membatu.


​Hingga akhirnya, kepura-puraan itu runtuh dan binasa,

Ketika seolah ada kalimat bergema, menembus dada:

“Pantaskah kau berdo[s]a?”


​Di sinilah, di titik paling nadir dan penuh luka,

Di antara rasa sakit, hina, takut, dan bingung yang menyiksa,

Kuselipkan satu pintasan harap yang tersisa:

Sambil menangis, kumemohon

Gugurkanlah huruf [s] itu dari hidupku, agar yang tersisa di jiwaku... hanyalah Doa.