Friday, October 11, 2013

Terserah

malam semakin suntuk
tapi mata belum mengantuk
memikirkan nasib yang kian terpuruk
karena semakin jauh dari petunjuk

detik jam terdengar jelas mengartikan sepi
tapi tubuh masih ingin tegak berdiri
mencari seribu satu solusi
untuk meniti jalan kembali

bulan dan bintang menebarkan cahaya
menerangi setiap relung jiwa
menawarkan diri untuk menyampaikan doa
maka kulantunkan semua asa
tak lupa rangkaian rencana usaha
lalu, kupasrahkan semua

jum'at, 26 Juli 2013
18 Ramadhan 1434
00:22

Saturday, May 18, 2013

MENUNGGU MA(SA)-TI(BA)



sebuah tulisan setelah berdiskusi dengan paman dan saudara sepupu, sekaligus untuk persyaratan pendaftaran beasiswa dengan tema aku, Islam dan Indonesia
 
Hampir 20 tahun lamanya aku dilahirkan di dunia. Sudah menjadi kepastian bahwa suatu saat nanti pasti akan tiba saatnya aku harus pergi meninggalkan dunia. Entah akan berapa lama lagi masa itu akan tiba.
Aku terlahir sebagai seorang muslim. Al-Quran yang sebagai pedoman hidup mengatur segala aspek kehidupan dan Muhammad sebagai contoh ideal telah mencontohkan semuanya. Namun, aku sendiri merasa sangat belum mengenali mereka dengan dalam. Aku hanya sedikit menjalankan dan terus mencoba memahami dan meningkatkan agar sesuai dengan pedoman dan sesuai contoh yang ditunjukkan. Lewat Al-Quran, kehidupan ini sudah diatur oleh penciptanya. Baik untuk dunia itu sendiri maupun penghuninya. Semua proses terbentuk dan berjalannya dunia, hukum-hukum yang berlaku di dalamnya; gravitasi, energi, air, api, dan semuanya telah diatur sesuai kadarnya. Begitupun hukum-hukum untuk penghuninya; politik, sosial, ekonomi, dan semuanya juga telah diatur. Kemudian aturan itu disampaikan dan ditunjukkan oleh seorang teladan, Muhammad.
Di samping itu, aku lahir di salah satu pulau besar negara kepulauan Indonesia. Negeri dengan segala kekayaaan dan keindahannya hingga seperti surga yang digambarkan dalam Al-Quran. Negeri yang katanya mayoritas penduduknya beragama Islam tapi mayoritas juga hanya sebatas identitas di atas kertas. Secara fisik Indonesia memang memiliki keunikan khusus hingga hampir menyerupai surga. Indonesia terletak di atas pertemuan tiga lempeng tektonik besar. Petemuan ketiga lempeng itu mengakibatkan adanya peristiwa tektonik dan aktivitas magma. Sehingga menghasilkan banyak sekali sumber daya alam dan menjadikan tanah Indonesia menjadi subur. Letak geografis juga mempengaruhi iklim Indonesia. Dengan semua itu tampilan fisik Indonesia menjadi sangat indah dengan segala keanekaragaman hayati dan keanekaragaman geologinya.
Aku sangat bangga sekaligus sedih dengan keadaan Islam dan Indonesia saat ini. Di satu sisi, mulai berjalan gerakan-gerakan yang menanamkan pendidikan yang dilandasi dengan niat dan adab yang lurus, kesadaran demi kesadaran muncul pada tiap orang. Di sisi lain, kemaksiatan terus merajalela oleh siapapun dan dimanapun. Dari yang melarat sampai konglomerat, di tempat ramai seperti pasar hingga tempat tersembunyi seperti kamar, dari anak jalanan hingga orang kantoran, dari yang memang benar-benar penjahat bahkan sampai tokoh agama atau tokoh masyarakat.
Sebagai seorang yang bersifat suka mengamati, aku memang bangga dengan mereka yang mulai sadar. Namun, kebanggan itu hanya sementara dan lebih banyak merasakan sedih dan sangat khawatir. Mereka yang sadar tidak atau mungkin belum berani mengungkapkan kesadarannya untuk mengajak mereka yang belum sadar. Mereka yang sudah tahu juga lebih banyak diam dibandingkan mereka yang terus-menerus “mengoarkan” kemaksiatan.
Sebagai seorang pemimpi, seharusnya negara ini dapat menjadi negara yang adidaya. Dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah, sumber daya manusia yang banyak, dengan Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya. Namun, sangat disayangkan data-data itu tak banyak mendukung negara ini untuk mencapainya. Islam dengan Al-Quran dan Muhammad sebagai pedoman dan teladan tidak benar-benar digunakan sebagai landasan untuk mengatur semua. Sumber daya manusia hanya tinggi dalam kuantitas bukan kualitas. Sehingga sumber daya alam yang ada justru menjadi santapan lezat bagi negara lain.
Sebagai orang yang dianggap bisa menganilisis dengan baik, kekhawatiranku akan Islam dan Indonesia semakin menjadi. Jika dugaanku benar tentang apa yang kutemui, maka kemungkinan besar Indonesia akan mendapatkan bencana yang sangat besar. Hatiku perih saat kutemui mereka yang bermaksiat justru adalah mereka yang paham agama, kalaupun tidak kebanyakan dari mereka juga menggunakan edentitas islam tapi benar-benar tidak mau mempelajari islam lebih dalam. Padahal sudah menjadi kewajiban bagi orang yang tahu untuk menjalankan apa yang diketahuinya dan bagi orang yan belum tahu untuk belajar dan mencari tahu. Namun, itu tidak dilakukan, justru sebaliknya. Maka, melihat umat yang seperti ini, tak ubahnya seperti umat-umat terdahulu, kaum ‘Ad, Tsamud, Madyan, Aikah, Sodom, Bani Israil, dan Quraisy. Mereka semua telah mendapat adzab masing-masing. Sementara itu, orang-orang yang sudah tahu dan paham tentang agama dan menjalankannya tidak atau mungkin belum berani mengajak mereka untuk bertaubat. Atau mungkin belum menemukan cara yang tepat untuk mengajak mereka berbuat kebaikan dan menjalankan aturan. Atau karena memang mereka menganggap diri dan apa yang diyakininya lah yang paling benar, sehingga masing-masing mereka merasa paling benar dan saling menyalahkan. Selain itu, ditambah lagi letak Indonesia yang di atas tiga lempeng tektonik tadi, selain memberikan banyak kenikmatan, juga mengakibatkan banyak sekali kemungkinan bencana alam. Bencana alam yang sementara ini dapat diramalkan atau sudah banyak diteliti dan sudah terbiasa terjadi adalah seperti gunung merapi, gempa bumi, tanah longsor, dan banjir. Namun, ada satu kemungkinan yang belum banyak orang melihat dan menelitinya; bahwa Indonesia terletak di daerah “pinggiran” dan sebelah timurnya merupakan samudra luas, Samudra Pasifik. Sementara itu, Indonesia juga merupakan Negara Kepualauan. Ketidaktahuan kita akan Samudra Pasifik, tentang kemungkinan bahaya yang ditimbulkannya, baik dari atas samudra itu maupun yang ada di bawah atau dalamnya, bencana besar dapat terbayangkan. Kalaupun tidak, semua bencana yang sudah diketahuipun sudah cukup mengkhawatirkan.
Melihat data-data dan ayat-ayat yang kuamati, Islam dan Indonesia menjadi mimpi buruk yang pastinya tidak diinginkan terjadi. Tapi sebagai manusia biasa aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku sadar bahwa seharusnya kekhawatiran tidak menguasaiku melainkan aku yang harus mengendalikannya. Sebenarnya justru tidak perlu merasa khawatir, karena memang semua telah diatur, dan aku hanya sebagai pelaksana salah satu peran yang telah ditentukan. Saat ini aku hanya bisa melakukan yang terbaik baik untuk diri sendiri maupun lingkungan; orang lain dan alam sekitar. Aku akan melaksanakan peranku ini; sebagai seorang muslim dan warga Indonesia, melalui setiap kesempatan dan bidang yang ada; keluarga, lingkungan, akademik, organisasi, sampai saatnya nanti aku harus meninggalkan dunia. Entah kapan masa itu akan tiba.

Sunday, April 14, 2013

Menyelami Lubang Di Hati


Kubuka mata dan kulihat dunia

Betapa Maha Agungnya Dia yang telah mencinptakan segala sesuatu dengan seimbang dan teliti. Peristiwa alam; matahari, langit, bumi, gunung, manusia, binatang, pepohonan, awan, hujan, panas, dingin, prosesnya, dinamikanya, dan semuanya. Semua tak luput dari pengawasan-Nya. Semua itu menunjukkan ayat-ayat kauniyah-Nya yang (seharusnya) menjadi bacaan dan petunjuk untuk hidup di dunia.

Tlah kuterima anugerah cintanya

Betapa banyak nikmat dan karunia yang telah dia berikan padaku. Apapun itu, dari fisik; mata, tangan, kaki, telinga, dan anggota tubuh semuanya, material; harta, kekayaan, pangkat/jabatan, ilmu, pengakuan, dan sebagainya, psikis; baik itu berupa kebahagiaan, kesedihan, kemenangan, kekalahan, dan berbagai macam rasa. Semua merupakan anugerah cinta yang dia berikan untukku menjalani hidup di dunia.

Tak pernah aku menyesali yang kupunya

Aku tak pernah menyesal mendapat penyakit yang dibilang aneh oleh banyak orang, aku tak pernah menyesal memiliki kemampuan yang terbatas dibandingkan orang lain yang lebih kuasa. Aku tak pernah menyesal mendapatkan kondisi yang mungkin termasuk golongan yang tak punya. Karena semua memang merupakan skenario kehidupan yang telah dia buat di dunia.

Tapi kusadari ada lubang dalam hati

Tapi, aku sadar. Meski banyak sekali nikmat dan anugerah darinya, meski aku telah menerima apa adanya, masih ada yang mengganjal. Masih ada lubang dalam hati ini yang masih kosong, membentuk lubang yang dalam, perlu diisi.

Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati

Lalu, kuputuskan untuk mencari kemanapun aku harus mencarinya, bagaimanapun cara yang bisa dilakukan untuk mengisi dan dapat melengkapi kekosongan yang melanda hati. Sekaligus menanti saat hati ini sendiri yang mungkin akan mengungkapkan apa yang diinginkannya untuk mengisi kekosongan isinya.

Apakah itu Kamu apakah itu dia
Selama ini kucari tanpa henti

Sampai akhirnya, aku bertemu dengan dia. Dia yang (selalu) dapat membuatku bangkit (kembali). Dia yang bisa membuat aku lebih bersemangat (lagi). Dia yang (selalu) ada di sisi, saat suka maupun duka. Dia yang selalu tahu apa yang aku inginkan. Apakah benar dia yang selama ini aku cari? Ataukah kamu? Kamu yang selama ini terus melengkapi kebutuhanku. Kamu yang terus memberi tanpa kuminta. Kamu yang (sangat) mengetahui kelebihan dan kekuranganku. Kamu yang (selalu) tahu kapan aku membutuhkan ini, kapan aku membutuhkan itu, dan kemudian menyediakannya untukku. Kamu yang (selalu) tahu apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku inginkan.

Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

Cinta, yang menggunakan hati untuk merasa. Cinta, perasaan tanpa logika. Cinta, yang memahami apa yang memang dibutuhkan, kemudian memberikannya meskipun dengan cara yang menyakitkan. Ataukah cita? Yang hanya mau menggunakan logika. Yang maunya hanya merasakan senang dan tak sedikitpun mau merasakan ketidaknyamanan. Mana yang mampu melengkapi lubang di dalam hati?

Kumengira hanya dialah obatnya
Tapi kusadari bukan itu yang kucari

Aku mengira dialah yang dapat mengobati luka hati ini. Dia yang selalu tampak membantuku mengatasi masalah-masalah yang kuhadapi. Tapi aku sadar; bukan dia yang aku butuhkan. Obat ini hanya mengobati sementara. Tidak menyembuhkan dengan sempurna. Yang aku cari adalah yang mampu melengkapi lubang di hati, bukan menyembuhkannya.

Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan kuyakin Kau tak ingin aku berhenti

Ku lanjutkan pencarian panjangku. Terus mencari apa yang aku butuhkan untuk melengkapi hati ini. Meski pencarian ini justru membuat lubang ini semakin menganga. Membuat langkah ini harus bertahan dan bersabar. Terus mencoba mengembangkan kualitas dan memperbanyak kuantitas segala cara untuk mendapatkannya. Karena aku yakin Kau tak pernah menginginkan aku berhenti menjalankan takdir yang telah Kau tetapkan.

Apakah itu Kamu apakah itu dia
Selama ini kucari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati
Apakah itu Kamu apakah itu dia
Selama ini kucari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang kan mengisi lubang di dalam hati

Sunday, November 18, 2012

Kepada yang Tercinta (part I)


Rambutmu terurai bebas panjang dan hitam, melambangkan kekonsistenan dan keteguhan. Matamu bersinar tenang, menyiratkan rasa kasih sayang dan kelembutan. Bibirmu ringan memberikan senyuman. Semua itu bersatu menjadikan wajahmu yang elok, cantik, dan penuh keindahan. Kecantikan yang natural karena memang tak berdandan. Riwayatmu mencerminkan tauladan. Ibadah tak pernah ketinggalan dan selalu menjauhi larangan. Semua terangkum menjadi wanita yang cantik, sholihah, dan menjadi idaman.
Perempuan yang dapat tegar dan penuh pengorbanan. Kuat, sabar dan penuh keikhlasan. Peka, gesit, dan lincah dalam menghadapi setiap permasalahan, ujian dan cobaan. Selalu mengerti dan memahami apa yang dibutuhkan.
Sembilan bulan lamanya mengandung delapan anak-anakmu dengan kesabaran. Bertahun-tahun mengasuh semua tanpa merasa kelelahan. Pengorbanan yang tak dapat dihitung dengan ukuran. Dibumbui dengan cinta dan kasih sayang yang tak terbandingkan.
Tak sembarang pendidikan yang diajarkan. Segalanya penuh dengan hikmah dan pelajaran. Tak lupa dengan tambahan nilai keagamaan. Tak sembarang kata yang diucapkan. Semua pasti sudah terlebih dahulu dilakukan. Karena disitulah puncak letak pendidikan. Tak sekedar cerita dan dongeng dengan kata-kata yang diselipkan. Melainkan juga dalam sikap dan akhlak keseharian yang kemudian menjadi cermin tauladan.
Hidup dalam kesederhanaan dan itu pula yang kau ajarkan. Bahwa manusia memang diciptakan dengan kesempurnaan, masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Tak pernah ada kata-kata iri, prasangka, bahkan walau umpatan. Yang ada hanyalah kebersamaan, keadilan, dan hampir semua kebaikan.
Tak ada kata yang dapat kusampaikan. Untuk mewakili dan menggambarkan atas apapun yang telah kau lakukan. Aksipun belum dapat juga kutunjukkan, untuk membalas apapun yang telah kau berikan. Beribu kata pun tak dapat menjadi balasan atas semua pengorbanan. Tetes mataupun tak mewakili apa yang ingin kusampaikan. Namun, ada kata yang sebenarnya ingin aku katakan bahwa “Aku sangat mencintaimu, mencintaimu karena Tuhan”.

Teruntuk bundaku tercinta, semoga kau bahagia di sana, tak perlu memikirkan lagi kondisi keluarga, yang mungkin akan membuatmu sengsara...

Friday, May 18, 2012

Bergembira Bersama-sama


Tik tok, tik tok. Detik jam tanganku terdengar keras di keheningan malam. Tak terasa, aku merebahkan diri sudah sejam, namun mata ini tak mau terpejam. Malah semakin terbuka di dalam kondisi lampu yang sudah padam.
Tik tok, tik tok. Suaranya semakin keras. Semakin jelas. Seolah tak mau berhenti, walau hanya sekilas. Seperti kaki-kaki ini yang sehari ini terus mengayuh sepeda dengan lepas, serasa tanpa beban tapi berkeringat deras.
“Pantai, pantai, pantai...” begitu ucap Brain di hampir setiap kayuhan sepedanya. Ada Dini, Aat, Ayya’, Halim, Rofiq, aku, Bagus, dan Arma. Ditambah Jey yang tiba-tiba ada. Datang tak dijemput, tapi pulangnya diantar berdua. Berangkat pake motor, sedangkan pulangnya dengan sepeda. Ya, kita bersepeda bersama. Di hari libur yang tak sering tiba. Menghilangkan penat dan segala tekanan yang ada. Mencari waktu berkumpul dan RAPAT bersama (hahaha).
Jalan demi jalan terlewat. Tetes demi tetes keringat, tak menjadi pematah semangat. Kami terus mengayuh dengan kuat. Meski tak begitu cepat, namun juga tak lambat, kami yakin dan terus bertekad; mencapai Pantai Parang Tritis dengan sepeda, dan yang terpenting dengan selamat. Meski tujuan sebenarnya adalah RAPAT (permintaannya Brain lhoo.. :P).
*****
Aku tetap mencoba menutup mata. Berharap bisa beristirahat seperti mereka. Namun, usahaku sia-sia. Dengkuran mereka (Halim, Rofiq, dan Bagus) terdengar menggema. Saling bersahutan seperti dalam lomba. Berdengung mengisi seantero ruang kamarnya. Layaknya ombak tadi pagi di sana. Berayun, bergelombang menyambar tubuh kita. Menampar dan mendorong, seolah ingin berkata, “aku sangat bertenaga…!!” sambil menjatuhkan semua orang yang dilaluinya.
Dengkuran itu sedikit demi sedikit menghilang. Digantikan hempusan-hembusan nafas panjang. Dan tetap membuatku tak dapat beristirahat dengan tenang. Hembusan nafas mereka semakin kencang, seperti angin di pantai tadi yang membuat air bergelombang. Menghantam dan menjatuhkan semua orang. Tapi, tanpa itu semua orang tak akan merasa senang.
*****
Akhirnya, suara-suara itu hilang perlahan. Menciptakan keheningan. Cukup tenang untuk melampiaskan mata yang sudah tak tahan. Perjalanan hari ini sangat menyenangkan. Meski ada beberapa kejadian yang tak dinginkan. Brain yang tergesa-gesa pulang, motor Jey yang kecelakaan, Halim dan Rofiq yang kehujanan, dan tas Arma yang ketinggalan. Namun, banyak pula pelajaran yang didapatkan. Perencanaan yang matang, koordinasi yang jelas dan terang, kemauan dan kemampuan tiap orang, semuanya dibutuhkan. Selain itu, luka Rofiq pun jadi agak mendingan, olahraga yang menyegarkan, dan sebagainya. Yang paling terutama adalah perjalanan ini telah membuktikan indahnya ukhuwah islam, yang dalam bahasa keseharian sering disebut sebagai persahabatan.
Semoga perasaan ini tak hanya untuk hari ini…. :)
Yogyakarta, 04 Mei 2012